MEDAN | Suara Indonesia Raya - (11/08)
Polemik tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha berhadiah minuman beralkohol merek Newport di festival musik The Sounds Project, Ancol, Jakarta Utara, menuai kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat.
Sekretaris Wilayah Pimpinan Wilayah Pemuda Muslim Sumatera Utara (PW Pemuda Muslim Sumut), Chaerul Umam Sinaga, S.Sos, menilai penggunaan ayat suci Al-Qur’an dalam aktivitas yang dikaitkan dengan pemberian minuman beralkohol merupakan tindakan yang sangat tidak pantas dan berpotensi menyinggung serta melukai perasaan umat Islam.
“Kami mengecam keras kejadian ini. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang harus ditempatkan dengan penuh penghormatan, bukan dijadikan bagian dari gimmick atau aktivitas promosi yang dikaitkan dengan minuman beralkohol,” tegas Chaerul, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup hanya diselesaikan dengan permintaan maaf. Aparat penegak hukum perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk mengungkap bagaimana aktivitas tersebut bisa terjadi, siapa saja yang terlibat, serta sejauh mana tanggung jawab masing-masing pihak.
Chaerul juga meminta aparat tidak terburu-buru menyimpulkan pihak tertentu sebagai pelaku sebelum seluruh fakta dan bukti diperiksa.
“Kalau memang dikatakan spontanitas, tentu harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan. Siapa yang membawa acara, bagaimana pengawasan di booth, siapa yang memberikan hadiah, dan apakah ada pihak lain yang mengetahui atau terlibat, semuanya harus terang,” ujarnya.
Ia menegaskan, permintaan maaf dari manajemen Newport dan pihak penyelenggara merupakan langkah yang patut dihargai. Namun, menurutnya, permintaan maaf tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan proses klarifikasi apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum.
“Kami menghormati permintaan maaf yang sudah disampaikan. Tetapi persoalan hukumnya tetap menjadi kewenangan aparat. Jika dari hasil penyelidikan ditemukan unsur pelanggaran, maka proses harus berjalan sesuai hukum yang berlaku,” kata Chaerul.
Jangan Jadikan Agama sebagai Gimmick PW Pemuda Muslim Sumut juga mengingatkan pelaku usaha, brand, promotor, dan penyelenggara acara agar tidak menggunakan simbol maupun ajaran agama sebagai bahan gimmick pemasaran secara sembarangan.
“Ini harus menjadi pelajaran nasional. Jangan karena mengejar engagement, viral, atau promosi, kemudian simbol dan ayat suci agama dijadikan bahan permainan. Ada batas etika yang harus dihormati,” tegasnya.
Chaerul berharap aparat dapat menangani kasus tersebut secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti sehingga tidak menimbulkan spekulasi maupun kegaduhan yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Kami meminta persoalan ini diusut secara objektif dan tuntas. Jika ada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, silakan diproses sesuai ketentuan hukum. Sebaliknya, jika ada pihak yang tidak terlibat, jangan sampai dikorbankan oleh opini publik,” pungkasnya.
Sebelumnya, video tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha dengan imbalan minuman Newport viral di media sosial dan memicu kecaman publik. Pihak Newport telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan aktivitas tersebut bukan bagian dari program resmi perusahaan. Pihak penyelenggara The Sounds Project juga menyatakan kejadian tersebut berada di luar persetujuan mereka.(redaksi)










