“MBG Bikin Geger Karo! 256 Siswa Dirawat, Pemuda Muslim Sumut Tuntut Usut Tuntas”

Foto: Seorang siswa mendapat perawatan di fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
banner 468x60

KARO | Suara Indonesia Raya - (14/08) Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di Kabupaten Karo mendapat perhatian dari Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara.

Sebanyak 256 siswa harus mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG yang disediakan SPPG Karo Berastagi Sempajaya, Rabu (13/8/2026).

Sekretaris Wilayah PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara, Chaerul Umam Sinaga, S.Sos, meminta pemerintah dan seluruh pihak terkait segera melakukan pengusutan secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

“Ini harus diusut tuntas. Jangan sampai persoalan ini hanya berhenti pada pemberian sanksi terhadap SPPG. Harus diketahui secara jelas apa penyebabnya, apakah ada kelalaian dalam proses pengolahan, penyimpanan maupun distribusi makanan,” tegas Chaerul.

Berdasarkan Nota Dinas Nomor ND-324/06.01.01/08/2026/KPPG yang dikeluarkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan pada 13 Agustus 2026, penerima manfaat SPPG Karo Berastagi Sempajaya mencapai 2.997 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.982 siswa dari dua sekolah tercatat mengalami kontaminasi pangan. Rinciannya, 1.425 siswa berasal dari SMA Negeri 1 Berastagi dan 557 siswa dari SMA Swasta Bersama Berastagi.

Sementara itu, 256 siswa harus mendapatkan perawatan di empat fasilitas kesehatan, yakni 28 orang di RSUD Kabupaten Karo, 122 orang di RSU Amanda, 81 orang di RS Efarina Etaham dan 21 orang di Puskesmas Berastagi.

Gejala dilaporkan mulai muncul sekitar setengah jam setelah para siswa mengonsumsi makanan yang dibagikan.

Menu MBG yang dibagikan pada saat kejadian terdiri dari nasi putih, ikan dencis botan, tahu asam manis, tumis kol dan wortel, ebi serta buah melon.

Dinas Kesehatan Kabupaten Karo telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium kesehatan di Medan.

Hingga saat ini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

KPPG Medan juga telah mengambil langkah awal dengan melakukan suspensi terhadap dapur SPPG penyedia. Pemeriksaan selanjutnya akan mencakup SPPG, ahli gizi, akuntan dan mitra terkait.

Chaerul mengatakan, program MBG merupakan program yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, terutama anak-anak. Karena itu, menurutnya, aspek keamanan dan kualitas makanan tidak boleh diabaikan.

“Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas. Kalau ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran prosedur, harus ada tindakan tegas sesuai aturan. Jangan sampai kejadian seperti ini kembali terjadi,” ujarnya.

Chaerul juga meminta hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan secara transparan kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Menurut Chaerul, pemberian sanksi terhadap SPPG merupakan langkah awal, tetapi bukan akhir dari persoalan.

Ia menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga pendistribusian makanan kepada para penerima manfaat.

“Program MBG adalah program yang baik dan harus kita dukung. Tetapi pelaksanaannya juga harus benar-benar diawasi. Jangan sampai niat memberikan makanan bergizi justru menimbulkan persoalan kesehatan bagi anak-anak,” kata Chaerul.

Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara berharap pemerintah segera menyelesaikan investigasi dan mengumumkan hasil pemeriksaan secara terbuka. Selain memastikan para siswa mendapatkan penanganan hingga pulih, evaluasi menyeluruh dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan program MBG di Sumatera Utara. (Redaksi)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *