JAKARTA | Suara Indonesia Raya - (31/08)
Ketua Umum Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI), Syamsul Rizal, menegaskan bahwa transformasi pemuda harus menjadi bagian penting dari perjuangan menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, sejarah telah membuktikan pemuda selalu menjadi kekuatan perubahan bangsa, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, perjuangan kemerdekaan 1945 hingga berbagai momentum reformasi nasional.
Karena itu, tantangan generasi sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan, melainkan mengisi kemerdekaan dengan kemandirian ekonomi, produktivitas, patriotisme, penguasaan teknologi dan keberanian membangun kekuatan nasional.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Presiden Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia dan Solusinya. Prabowo menggambarkan sebuah paradoks: Indonesia dianugerahi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar, tetapi masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan serta persoalan kesejahteraan.
Pokok pemikirannya menempatkan pengelolaan kekayaan nasional, kedaulatan ekonomi dan kemandirian bangsa sebagai jalan penting untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: Indonesia yang kuat, terhormat dan rakyatnya sejahtera.
“Paradoks itu harus dijawab oleh generasi muda. Pemuda Indonesia jangan hanya menjadi penonton di tengah kekayaan bangsanya sendiri. Kita harus menjadi pelaku ekonomi, pengusaha, petani dan nelayan modern, inovator, profesional serta penggerak industrialisasi dan hilirisasi nasional,” tegas Syamsul Rizal.
PNPI memandang jumlah pemuda Indonesia sebagai kekuatan strategis yang harus dikonsolidasikan melalui pendidikan, keterampilan, kewirausahaan dan penguasaan teknologi. BPS melalui Statistik Pemuda Indonesia 2025 menegaskan pentingnya pemberdayaan dan pengembangan potensi pemuda berdasarkan kondisi demografi, pendidikan, ketenagakerjaan dan sosial ekonomi terkini.
Transformasi tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan pemerintahan Presiden Prabowo. RPJMN 2025–2029 menjadi tahapan awal menuju Indonesia Emas 2045 dengan sasaran antara lain peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan. Bahkan visi pembangunan pemuda menuju 2045 secara eksplisit mengarah pada lahirnya pemuda yang mandiri, tangguh, produktif dan memiliki nasionalisme sehingga mampu berperan nyata dalam pembangunan nasional. Bagi PNPI, inilah momentum menjadikan bonus demografi sebagai kekuatan ekonomi dan geopolitik Indonesia, bukan justru beban pembangunan.
Syamsul Rizal menegaskan, menuju 100 tahun Indonesia Merdeka pada 2045, pemuda harus berani menjawab Paradoks Indonesia melalui kerja nyata: membangun kemandirian, menciptakan lapangan kerja, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga kekayaan nasional serta berdiri teguh pada Pancasila dan NKRI.
“Indonesia Emas tidak boleh hanya menjadi slogan. Pemudalah yang harus mengubah kekayaan Indonesia menjadi kesejahteraan rakyat. Pemuda mandiri, produktif, patriotik dan berdaya saing adalah kekuatan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat, berdaulat, maju dan sejahtera,” pungkas Ketua Umum PNPI Syamsul Rizal. (Tim)









