JAKARTA | Suara Indonesia Raya - (01/09)
Ketua Umum PNPI, Syamsul Rizal, memandang hubungan Kesultanan Ternate di Maluku Utara dengan Kesultanan Palembang Darussalam di Sumatera Selatan sebagai bagian menarik dari sejarah perjumpaan antarmasyarakat Islam Nusantara. Hubungan itu sebaiknya tidak semata-mata dibaca sebagai hubungan formal antarkerajaan, tetapi ditempatkan dalam bentang lebih luas berupa jaringan pelayaran, perdagangan, penyebaran Islam, mobilitas ulama dan bangsawan, serta tradisi Melayu yang selama berabad-abad menghubungkan wilayah barat dan timur Nusantara. Secara historis, Palembang berkembang sebagai kekuatan politik sekaligus pusat pengetahuan Islam-Melayu, sedangkan Ternate menjadi salah satu simpul penting perdagangan rempah dan perkembangan Islam di kawasan timur Nusantara.
Menurut Syamsul Rizal, fakta historis memperlihatkan bahwa dunia Melayu tidak dapat dipahami hanya berdasarkan batas geografis Sumatera dan Semenanjung Malaka. Tradisi Melayu pada masa lalu bergerak melalui laut dan membentuk jejaring sosial yang luas. Penelitian mengenai keberadaan orang Melayu di Ternate menunjukkan bahwa perdagangan rempah menjadi salah satu faktor penting kedatangan komunitas Melayu ke Ternate pada sekitar abad XV–XVI. Sumber penelitian tersebut bahkan mencatat peran Nakhoda Ismail dalam mobilitas pedagang Melayu antara Malaka dan Ternate serta Datuk Maula Husain dalam pengajaran Al-Qur’an dan perkembangan Islam di Ternate. Data ini menunjukkan bahwa unsur Melayu telah menjadi salah satu bagian dari interaksi sosial-keagamaan di Ternate sejak berabad-abad lalu.
Dari perspektif sosiologis, hubungan Ternate dan Palembang dapat dibaca melalui terbentuknya jaringan masyarakat maritim Nusantara. Laut pada masa kesultanan bukanlah pemisah antarpulau, melainkan ruang sosial yang mempertemukan pedagang, ulama, pelaut, bangsawan dan masyarakat dari berbagai latar kebudayaan. Ternate tumbuh dalam jaringan perdagangan cengkih yang menarik kedatangan pedagang Melayu, Jawa, Arab, Cina hingga bangsa Eropa, sementara Palembang memiliki posisi penting sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan di Sumatera bagian selatan. Pertemuan manusia melalui jalur perdagangan tersebut pada akhirnya memungkinkan pertukaran bahasa, pengetahuan agama, adat, kesusastraan dan tata kehidupan sosial.
Dalam perspektif antropologis, kedekatan itu menjadi lebih menarik karena tradisi Melayu Nusantara pada dasarnya memiliki kemampuan besar menyerap sekaligus mengolah unsur kebudayaan yang datang dari luar. Identitas Melayu berkembang melalui bahasa pergaulan, Islam, adat, hubungan kekerabatan, perdagangan dan etika kekuasaan. Palembang memperlihatkan perpaduan tersebut melalui peninggalan manuskrip, arsitektur, makam, masjid dan tradisi keraton. Kajian terbaru mengenai Kesultanan Palembang Darussalam bahkan menunjukkan bagaimana lingkungan keraton menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan Islam, kebangsawanan dan ekspresi kebudayaan lokal. Sementara di Ternate, keberadaan komunitas Melayu dan aktivitas pengajaran Al-Qur’an memperlihatkan bahwa interaksi kebudayaan Melayu dan masyarakat Maluku berlangsung melalui proses sosial yang panjang, bukan sekadar hubungan politik elite kerajaan.
Jejak historis paling konkret yang mempertemukan Palembang dan Ternate muncul dalam perjalanan Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah perjuangan Kesultanan Palembang Darussalam menghadapi kekuatan kolonial Belanda, Sultan Mahmud Badaruddin II akhirnya ditaklukkan pada 1821. Sumber sejarah mencatat bahwa pada 28 Juli 1821 ia diasingkan ke Ternate. Dengan demikian, Ternate kemudian menjadi bagian langsung dari memori sejarah Palembang. Lebih penting lagi, penelitian historiografi mengenai Raden Abdul Habib—keturunan langsung Sultan Mahmud Badaruddin II—mencatat adanya Catatan Harian Raden Abdul Habib dan denah lokasi pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II di Ternate. Fakta tersebut merupakan sumber penting untuk menelusuri hubungan Palembang–Ternate berdasarkan bukti historiografis, bukan hanya cerita lisan.
Syamsul Rizal menilai episode pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II mempunyai makna filosofis yang jauh lebih dalam daripada sekadar pemindahan seorang penguasa oleh pemerintah kolonial. Dalam pandangan kebudayaan Nusantara, perjalanan manusia dapat mengubah tempat pengasingan menjadi ruang pembentukan ingatan bersama. Sultan Mahmud Badaruddin II membawa identitas Palembang ke Ternate, sementara Ternate menjadi ruang terakhir dalam perjalanan hidup salah satu tokoh terbesar Palembang. Dari sinilah muncul sebuah pesan filosofis bahwa kekuasaan dapat dirampas, wilayah politik dapat dikuasai, tetapi nilai, pengetahuan, keyakinan dan ingatan kolektif suatu masyarakat tidak mudah dihapuskan. Warisan intelektual Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II sendiri diketahui kuat berkaitan dengan Islam, sastra, pendidikan dan kehidupan keagamaan.
Hubungan tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks perlawanan masyarakat Nusantara terhadap kolonialisme. Ternate memiliki sejarah panjang menghadapi penetrasi bangsa Eropa sejak masa perdagangan rempah, termasuk periode Sultan Baabullah pada 1570–1583 yang dikenal kuat dalam menghadapi Portugis. Palembang kemudian menghadapi tekanan kolonial Inggris dan Belanda, dengan Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi tokoh utama perlawanan pada awal abad XIX. Dua pengalaman sejarah itu memang berlangsung pada masa, wilayah dan kondisi politik berbeda sehingga tidak boleh disamakan begitu saja. Namun keduanya memperlihatkan persoalan historis yang serupa: bagaimana kesultanan-kesultanan Nusantara mempertahankan kedaulatan politik, ekonomi, agama dan kebudayaannya ketika berhadapan dengan ekspansi kekuatan kolonial.
Karena itu, Syamsul Rizal mendorong agar sejarah hubungan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Palembang Darussalam dikaji lebih mendalam melalui penelitian lintas disiplin yang melibatkan sejarawan, antropolog, sosiolog, filolog, arkeolog serta pemangku adat dan kesultanan. Penelusuran terhadap arsip kolonial, manuskrip Palembang, tradisi lisan Ternate, silsilah, makam, catatan perjalanan dan peninggalan keluarga Sultan Mahmud Badaruddin II dapat membuka lapisan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Dalam perspektif tradisi Melayu, hubungan Ternate–Palembang pada akhirnya mengajarkan bahwa Nusantara dibangun bukan hanya oleh batas wilayah kerajaan, tetapi oleh jaringan manusia, laut, perdagangan, Islam, adat, pengetahuan dan ingatan sejarah. Dari Sungai Musi hingga negeri cengkih Ternate, terdapat warisan persaudaraan kebudayaan yang layak dirawat sebagai bagian dari identitas dan peradaban Indonesia. (Tim)









