JAKARTA | Suara Indonesia Raya - (05/07)
Suara Harian Medan (5/7)– Laporan investigasi yang diterbitkan Majalah Tempo bersama jurnalis independen asal India mengungkap dugaan penipuan yang melibatkan Gaurav Srivastava, seorang pebisnis asal India yang menetap di Amerika Serikat. Dalam laporan tersebut, Gaurav disebut mengaku sebagai agen dari badan intelijen Amerika Serikat, CIA (Central Intelligence Agency), untuk membangun akses ke kalangan elite pertahanan Indonesia.Berdasarkan hasil investigasi, Gaurav diduga berhasil menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh penting, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo. Salah satu pertemuan disebut berlangsung di Hambalang pada 2022 ketika Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Investigasi juga mengungkap bahwa kedekatan tersebut berlanjut pada pembahasan sejumlah peluang kerja sama di sektor pertahanan. Di antaranya adalah rencana pengadaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista), termasuk helikopter dan pesawat tempur, yang sempat dituangkan dalam bentuk Letter of Intent (LoI). Namun, rencana tersebut tidak berlanjut hingga tahap realisasi.
Selain itu, laporan menyebut adanya aliran dana sekitar 51 juta dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp918 miliar kepada perusahaan yang dikaitkan dengan Gaurav Srivastava. Dugaan transaksi tersebut menjadi salah satu fokus dalam investigasi karena berkaitan dengan aktivitas bisnis yang dibangunnya melalui klaim sebagai perwakilan intelijen Amerika.
Sebelum menjadi perhatian di Indonesia, sepak terjang Gaurav Srivastava telah lebih dahulu menjadi sorotan sejumlah media internasional, seperti Financial Times, The Wall Street Journal, dan Project Brazen. Namun, keterkaitannya dengan lingkaran elite Indonesia baru diungkap secara rinci melalui laporan investigasi Tempo yang dipublikasikan pada akhir Juni.
Kasus ini memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme verifikasi terhadap pihak asing yang menjalin komunikasi maupun menawarkan kerja sama strategis di bidang pertahanan. Sejumlah pengamat menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh institusi negara agar memperketat proses pemeriksaan latar belakang setiap individu maupun perusahaan yang terlibat dalam proyek-proyek strategis.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi yang memberikan tanggapan secara menyeluruh terhadap seluruh temuan investigasi tersebut. Oleh karena itu, informasi dalam pemberitaan ini merujuk pada hasil investigasi media dan masih menunggu penjelasan maupun klarifikasi dari pihak-pihak terkait. (Red)










